Thomas juga menjelaskan Dinas Pendidikan juga menggandeng Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), LPK, serta Dinas Ketenagakerjaan untuk menyusun rencana aksi terintegrasi.
Ia menjabarkan materi pelatihan mencakup bahasa Jepang di level N5 dan N4, pemahaman sektor kerja internasional, prosedur migrasi legal, penyusunan dokumen kerja, serta keterampilan penunjang lainnya.
Pelatihan untuk alumni dijalankan selama 3 bulan, sementara untuk siswa kelas XII dirancang berlangsung selama 12 bulan penuh.
Selain itu, Thomas juga memaparkan program Desa Migran Emas yang akan menjadi salah satu terobosan dalam meningkatkan literasi migrasi aman dan memperluas kesempatan kerja berbasis komunitas desa.
Ia menjelaskan bahwa program ini akan memberikan edukasi tentang proses migrasi yang legal dan aman, informasi peluang kerja luar negeri, serta memperkuat peran aktif pemerintah daerah hingga ke tingkat desa dalam tata kelola penempatan dan perlindungan PMI.
“Kita ingin pekerja migran Lampung dipersiapkan sebelum, saat dan sesudah bekerja di luar negeri,” ujarnya.
Pemprov Lampung optimistis bahwa melalui sinergi yang erat, Lampung dapat menjadi contoh daerah yang mampu mengelola migrasi secara aman, profesional dan produktif.