Sriyanto mengatakan, pembangunan tanggul menjadi salah satu pekerjaan kritis karena sebagian wilayah memiliki karakter tanah labil dan berbatasan dengan sungai serta daerah aliran sungai.
Pembangunan ditargetkan rampung pada pertengahan September 2026.
Saat ini, progres keseluruhan pembangunan telah mencapai 75,81 persen.
Namun, tanggul hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan besar tersebut. Sebab, benteng terbaik bagi konservasi bukan semata-mata tembok yang tinggi, melainkan tata kelola yang mampu membuat manusia dan satwa sama-sama memiliki ruang hidup.
Wajah Wisata yang Berubah
Perubahan juga akan menyentuh wajah wisata TNWK.
Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan, pola interaksi wisatawan dengan gajah akan ditata kembali setelah proses revitalisasi.
"Mungkin nanti kita akan dengan model revitalisasi yang baru, kita akan buat skema model interaksi yang baru. Jadi mungkin tidak lagi seperti dulu," kata Zaidi.
Artinya, wisata gajah ke depan tidak sekadar menghadirkan tontonan. Ada pesan konservasi yang harus dibawa pulang setiap wisatawan: bahwa gajah bukan properti, bukan sekadar atraksi, melainkan satwa liar yang memiliki naluri, ruang dan hak untuk hidup.
Maka, wajah baru TNWK nantinya bukan hanya soal bangunan yang lebih bagus atau fasilitas wisata yang lebih modern. Ada pekerjaan yang jauh lebih dalam: mengubah cara manusia berhadapan dengan gajah, dari saling menghalau menjadi belajar berbagi ruang.
Di sana, barangkali masa depan TNWK menemukan jalannya: gajah tetap menjadi gajah, hutan tetap menjadi rumahnya, dan manusia memperoleh manfaat tanpa harus merampas ruang kehidupan satwa.
Menjaga Hutan, Menjaga Masa Depan
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengimbau seluruh pihak, termasuk masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kelestarian kawasan konservasi dari berbagai ancaman.