Gubernur Mirza menegaskan bahwa Pemprov Lampung berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di sektor-sektor tersebut, sejalan dengan arahan pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan dan pertanian berkelanjutan.
Ia juga memaparkan strategi perbaikan infrastruktur untuk mendukung konektivitas hasil pertanian dari desa ke kota dimana Pemprov Lampung menyiapkan anggaran hingga Rp4,8 triliun untuk perbaikan jalan hingga tahun 2029, dengan prioritas pada jalur distribusi komoditas.
Selain itu, Pemprov Lampung juga menggagas program pembangunan dryer (alat pengering hasil panen) dan penguatan BUMDes produktif di ratusan desa melalui salah satu program prioritas, yakni Desaku Maju.
“Kami sedang memulai pilot project di 24 desa. Program ini akan menciptakan efisiensi besar bagi petani dan menambah pendapatan desa melalui BUMDes,” jelasnya.
Menurut Gubernur Mirza kebijakan ekonomi nasional yang mendorong kenaikan harga gabah dan jagung telah berdampak positif di Lampung dimana pendapatan petani naik signifikan, menciptakan perputaran ekonomi baru di wilayah perdesaan.
“Sekitar Rp9 triliun uang berpindah ke desa setiap tahun. Ini bukti bahwa ekonomi kita mulai bergerak dari bawah (bottom-up growth), bukan lagi trickle down,” ujarnya.
Dalam jangka menengah, Pemprov Lampung sendiri menyiapkan pengembangan kawasan industri dan pelabuhan logistik baru, serta mendorong terbentuknya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di dua wilayah potensial dengan insentif fiskal seperti tax holiday.
Selain itu, pembangunan ekstensi tol Lematang–Panjang dijadwalkan dimulai pada Mei 2026 untuk meningkatkan konektivitas ekonomi.
Menutup paparannya, Gubernur Mirza menegaskan visi besarnya untuk menjadikan Lampung sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di bagian barat Indonesia, seiring pergeseran jalur perdagangan global melalui ALKI I.
Gubernur Mirza juga meminta dukungan dunia usaha untuk bersama meningkatkan kualitas pendidikan menengah di Lampung.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini, hanya sekitar 21% lulusan SMA yang melanjutkan ke perguruan tinggi, dan sebagian masih harus mengikuti pembelajaran remedial dasar.
“Saya butuh bantuan dunia usaha untuk meningkatkan kualitas sekolah dan pelatihan vokasi, karena SDM unggul adalah modal utama kita,” pungkasnya.