Jihan menyebut bahwa kolaborasi ini menggambarkan wajah baru pembangunan ekonomi yang berkeadilan, memberdayakan, dan berkelanjutan.
“Sebuah pendekatan yang tidak hanya mengejar angka, tapi juga makna yaitu kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Jihan memberikan apresiasi tinggi kepada Kejaksaan Tinggi Lampung yang telah menginisiasi kegiatan pelatihan bagi pengelola Koperasi Merah Putih.
Langkah tersebut dinilai sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalitas para pengurus koperasi di desa.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada PT Bukit Asam (Persero) Tbk atas dukungan program CSR dalam mendukung percepatan usaha Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Mitra Adhyaksa di 32 lokasi di Provinsi Lampung.
“Inilah contoh nyata sinergi antara dunia usaha dan masyarakat, yang menjadi fondasi ekonomi lokal yang tangguh. Bersama kita bersinergi untuk suksesnya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Provinsi Lampung,” ungkapnya.
Menurutnya, Provinsi Lampung memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkembang.
“Kita punya potensi besar, dan kita juga memiliki semangat luar biasa. Tinggal bagaimana kita terus bergandengan tangan, memperkuat sinergi, dan mewujudkan Lampung yang berdaya, sejahtera, dan mandiri,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyampaikan apresiasinya kepada Provinsi Lampung atas kecepatan dalam membentuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang telah berbadan hukum.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Wakil Gubernur Lampung dalam proses pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang telah berbadan hukum. Provinsi Lampung termasuk yang tercepat menyampaikan kepada kita,” ujar Ferry.
Ferry menjelaskan, Presiden telah menetapkan target bahwa pada Maret 2026, sebanyak 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sudah selesai dibangun yang dilengkapi dengan bangunan fisik, gudang, gerai, serta sarana pendukung lain yang siap untuk beroperasi.
Ia menggambarkan potensi besar dari program tersebut.
“Bayangkan, tahun depan akan ada 80 ribu gerai sembako yang dikelola seperti ritel modern. Ada 80 ribu gudang yang dikelola secara modern, 80 ribu sarana logistik dan transportasi di desa, hingga 80 ribu apotek, klinik, dan berbagai kegiatan bisnis di desa dan kelurahan Merah Putih,” ujarnya.