Di Era Gubernur Mirza, Pemprov Lampung Dorong Konservasi Way Kambas Berbasis Harmoni Manusia dan Gajah

Redaksi - Rabu, 02 Sep 2026 - 05:24 WIB
Di Era Gubernur Mirza, Pemprov Lampung Dorong Konservasi Way Kambas Berbasis Harmoni Manusia dan Gajah
Foto: Dok. Pemprov Lampung -
Advertisements

Ada yang perlahan berubah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Bukan sekadar wajah kawasan konservasi, melainkan cara manusia memandang dan memperlakukan gajah serta permukiman warga yang beririsan dengan kawasan pelestarian flora fauna alam liar. 

Di era kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza), hubungan manusia dan satwa endemik itu mulai diarahkan pada satu gagasan sederhana: gajah tetap liar dan merdeka, sementara warga di tepian kawasan tetap aman dan sejahtera.

Perubahan itu dilakukan melalui sejumlah pendekatan. Mulai dari mengubah pola hubungan mahot dan gajah, mengembangkan budi daya serai dan lebah di wilayah perbatasan, membangun tanggul perlindungan, hingga menata kembali model wisata berbasis konservasi.

Advertisements

Senin (31/8/2026), Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi kembali menyambangi TNWK. Kunjungan tersebut untuk memastikan kondisi gajah setelah kawasan konservasi itu sempat dilanda kebakaran.

Hasilnya, kabar tentang gajah-gajah yang terdampak kebakaran ternyata tidak seperti yang dikhawatirkan."Karena banyak sekali isu gajah terdampak kebakaran, kami cek ternyata gajah-gajah kita sehat walafiat, aman, senang, tenang, ya. Gajah-gajahnya malah makin gemuk-gemuk," ujar Mirza saat berada di TNWK bersama jajaran Forkopimda Provinsi Lampung.

Dari Rasa Takut Menuju Keakraban

Salah satu perubahan paling mendasar adalah cara mahot berinteraksi dengan gajah. Selama bertahun-tahun, relasi manusia dan gajah dalam pengelolaan konservasi kerap dibangun melalui kendali dan rasa takut. Kini, pendekatan itu mulai digeser.

Advertisements

Para pawang atau mahot akan mendapatkan pelatihan di Elephant Nature Park (ENP), Thailand. Pelatihan tersebut diharapkan melahirkan pola interaksi yang lebih manusiawi dan tidak bertumpu pada kekerasan maupun rantai.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan, pendekatan terhadap gajah akan diubah secara bertahap."Nantinya, ada perubahan pendekatan," kata Zaidi.

Menurutnya, hubungan antara mahot dan gajah ke depan tidak lagi dibangun berdasarkan rasa takut. "Kalau dulu pendekatan dengan gajah takut dengan mahot. Nanti, hubungannya harmonis," ujarnya.

Sebab, konservasi bukan hanya tentang menjaga satwa tetap hidup. Lebih dari itu, konservasi adalah tentang belajar memahami bahwa manusia bukan satu-satunya pemilik ruang di alam.

Advertisements

Serai, Lebah dan Harapan Warga

Konflik gajah dan manusia juga coba diredam dari sisi yang berbeda: membuat batas alami sekaligus menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

HALAMAN:
Advertisements
Share:
Editor: Redaksi
Source:

BACA JUGA

Advertisements

BERITA POPULER

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

BERITA TERBARU

Advertisements

BERITA PILIHAN

Advertisements

TAG POPULER

  1. #1
  1. #2
  1. #3
  1. #4
  1. #5
Advertisements

VIDEO TERBARU

Advertisements
© 2024 Deskripsinews.com. All Right Reserved.