Acara tersebut merupakan ajang pameran kerajinan nusantara berskala nasional hingga internasional yang digelar oleh Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) untuk mempromosikan produk-produk kriya dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam sambutannya, Tito menegaskan bahwa potensi Indonesia di sektor kerajinan sangat luar biasa. Pada 2026, nilai ekonomi yang beredar dari sektor kerajinan dunia diperkirakan mencapai sekitar 3.000 miliar dolar AS.
Lebih lanjut, Mendagri menjelaskan bahwa potensi pendapatan dari sektor kerajinan masih didominasi oleh sejumlah negara seperti China, India, Vietnam, hingga Filipina. Negara-negara tersebut diketahui memproduksi hasil kerajinan tangan secara masif. Kendati demikian, Mendagri menyebut Indonesia memiliki potensi besar dengan beragam hasil kerajinan dan kekayaan budaya dari berbagai daerah di seluruh penjuru Tanah Air.
“Kita melihat sendiri bagaimana ragam kerajinan kita. Dari yang tenun, kain, motif songket, dari kayu, kerajinan perhiasan, kerajinan tadi banyak sekali yang sangat kreatif,” sambungnya.
Oleh karena itu, Mendagri berpesan kepada para perajin kriya serta jajaran pengurus Dekranas dan Dekranasda untuk terus mengoptimalkan potensi kerajinan di Indonesia. Menurut Mendagri, hasil kerajinan tersebut selain dapat memberikan sumbangsih secara ekonomi, juga memiliki arti penting sebagai identitas budaya bangsa Indonesia.
“Nasib bangsa ini untuk kerajinan bisa dipercaya di tingkat dunia di tangan kita semua, di tangan Ibu-Ibu [pengurus Dekranas dan Dekranasda] sekalian,” jelasnya.